Sisa Hujan

Shopee Lokal Day Banner Ad

Lirik Lagu Xkatira – Sisa Hujan menghadirkan nuansa puitis yang sarat dengan refleksi tentang kenangan, rindu, dan makna musik dalam perjalanan hidup. Ditulis oleh Ari Pujangga dan dirilis pada 25 Desember 2025, lagu ini memadukan lirik yang mendalam dengan atmosfer melankolis yang menenangkan, sehingga terasa seperti percakapan sunyi antara masa lalu dan masa kini.

Melalui “Sisa Hujan”, Xkatira mengajak pendengar menyelami ruang memori yang masih menyimpan gema lagu-lagu lama, tetes hujan, dan kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Setiap bait menggambarkan bagaimana musik dapat menjadi tempat pulang bagi rasa kehilangan dan kerinduan, sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua yang hilang akan lenyap begitu saja. Dengan bahasa yang indah dan penuh metafora, lagu ini menghadirkan pengalaman mendengarkan yang emosional dan kontemplatif.

Lirik Lagu Sisa Hujan

[Intro]
Masih terdengar di hujung senja
Nada lama berbisik mesralah
Lelah pun pulih dalam iramanya
Seolah dunia pernah tertawa
Titis kenangan gugur perlahan
Membasuh sepi di dada zaman
Kala sunyi menjadi teman
Masih ku nyanyi sisa hujan

[Chorus]
Titis hujan menulis rahsia bumi
Nada lama berbisik di nadi sunyi
Rindu pun tunduk di altar memori
Aku masih hidup di sisa melodi

[Verse 1]
Langit tua menangis perlahan
Menyiram kisah dari lembah kenangan yang retak
Titisnya bagai surat lama
Menulis nama yang dulu sempat kuingat dan kupecah
Di bawah pohon rindu aku berdiri
Mendengar gema nada yang perlahan mati
Irama itu masih hidup
Meski dunia berganti pakaian besi dan bising kota ini
Kata pun hilang maknanya
Tapi sunyi masih punya suara yang mengerti
Bahawa tidak semua yang hilang mati
Ada yang pulang sebagai melodi
Nada lama itu menitis di hati
Jadi rahsia yang tak bisa terpadam
Seperti lilin kecil di ujung malam
Menyala walau dunia tenggelam
Aku pejamkan mata
Kulihat wajah yang tak pernah benar-benar pergi
Lagunya tinggal di dada bumi
Berputar dalam doa bernafas sepi

[Chorus]
Titis hujan menulis rahsia bumi
Nada lama berbisik di nadi sunyi
Rindu pun tunduk di altar memori
Aku masih hidup di sisa melodi

[Post-Chorus]
Nada tak mati, cuma berganti
Yang lama masih bernyanyi di hati

[Verse 2]
Aku belajar dari senyap
Dia guru paling jujur di kamar waktu
Mengajar bahawa tak semua gema perlu pendengar
Untuk jadi bermakna
Yang tinggal dari ribut, bukanlah deru
Tapi bau tanah selepasnya
Itulah kasih yang tak menuntut
Tapi tetap setia di dada dunia
Di radio tua ku genggam detik
Serpih kenangan yang masih berdenting
Lagu lama berbunyi bening
Seakan Tuhan bisikan sesuatu yang tak sempat aku tulis
Aku bukan mencari nama, tapi makna
Di antara seribu bait yang kian luntur
Kerana muzik bukan untuk dibiarkan mati
Tapi untuk di semai agar terus subur
Setiap huruf ada nyawa
Setiap rima ada doa yang terbit dari luka
Aku masih menulis
Walau pena ini haus tinta masih setia berduka

[Bridge]
Piring berdebu tapi suaranya suci
Dari sisa hujan lahirlah melodi

[Chorus]
Titis hujan menulis rahsia bumi
Nada lama berbisik di nadi sunyi
Rindu pun tunduk di altar memori
Aku masih hidup di sisa melodi

Shopee Lokal Day Banner Ad