“Bertahta Di Atas Tanah Mereka” adalah lagu karya Pari Kesit yang dirilis pada 28 Juni 2025. Lagu ini mengangkat tema tentang ketidakadilan, konflik agraria, dan perjuangan masyarakat dalam mempertahankan tanah yang dianggap sebagai bagian dari identitas, sejarah, dan kehidupan mereka. Dengan lirik yang puitis namun tajam, Pari Kesit menyampaikan kritik sosial melalui berbagai metafora yang menggambarkan hubungan antara kekuasaan dan rakyat.
Mengusung nuansa emosional yang kuat, lagu ini memadukan kisah penderitaan, kehilangan, dan perlawanan dalam satu narasi yang menyentuh. Melalui karya ini, Pari Kesit mengajak pendengar untuk merenungkan makna tanah bukan hanya sebagai aset, tetapi juga sebagai ruang hidup yang memiliki nilai budaya, sejarah, dan kemanusiaan.
Lirik Lagu Bertahta Di Atas Tanah Mereka
[Verse 1]
Tangis tumpah, basahi tanah
Dulu subur, kini penuh darah
Rumah rubuh, langit pun marah
Janji diludah, cinta jadi parah
Dulu datang bawa tangan terbuka
Kini menggenggam senjata dan luka
Katamu pelindung, tapi kau pembakar
Pakai wajah manis, hatimu pemangkar
[Chorus]
Kau bertahta di atas tanah mereka
Bangun istana dari duka dan cela
Kau rampas hak lalu pura-pura buta
Iblis bersayap pakai jubah sutra
[Verse 2]
Langkahmu jejakkan retak di ladang
Senyummu manis, tapi lidahmu garang
Kau tanam bendera, cabut akar kami
Beri kami luka, kau beri diri puji
Anak-anak bermain di puing sejarah
Ibu menjerit, bapak memanggul amarah
Kau sebut itu damai, kami sebut penjajahan
Kami hafal wajahmu, munafik dan penindasan
[Chorus]
Kau bertahta di atas tanah mereka
Bangun istana dari duka dan cela
Kau rampas hak lalu pura-pura buta
Iblis bersayap pakai jubah sutra
[Verse 3]
Kami bukan bayang, kami cahaya
Dibakar pun kami tetap menyala
Tanah ini milik darah dan doa
Bukan singgasana buat para durjana
[Chorus]
Kau bertahta di atas tanah mereka
Bangun istana dari duka dan cela
Kau rampas hak lalu pura-pura buta
Iblis bersayap pakai jubah sutra
Deskripsi
Secara keseluruhan, “Bertahta Di Atas Tanah Mereka” merupakan lagu kritik sosial yang membahas dampak kekuasaan terhadap masyarakat yang kehilangan hak atas tanah dan ruang hidup mereka. Lagu ini menggunakan bahasa simbolik untuk menggambarkan luka sosial yang ditimbulkan oleh konflik dan ketimpangan.
Pada verse pertama, Pari Kesit menghadirkan gambaran suasana yang penuh kesedihan melalui lirik seperti “Tangis tumpah, basahi tanah” dan “Rumah rubuh, langit pun marah”. Ungkapan tersebut menjadi simbol penderitaan masyarakat yang mengalami kehilangan akibat perubahan atau konflik yang terjadi di lingkungan mereka. Tanah digambarkan sebagai sesuatu yang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kehidupan manusia.
Lirik juga menyoroti perubahan karakter pihak yang awalnya hadir dengan janji dan harapan, tetapi kemudian dianggap membawa kerusakan. Kalimat “Katamu pelindung, tapi kau pembakar” menggambarkan rasa kecewa terhadap sosok atau institusi yang dinilai tidak memenuhi harapan yang pernah diberikan.
Bagian chorus menjadi inti pesan lagu. Frasa “Kau bertahta di atas tanah mereka” merupakan metafora yang menggambarkan kekuasaan yang berdiri di atas penderitaan orang lain. Sementara itu, lirik “Bangun istana dari duka dan cela” menegaskan kritik terhadap pihak yang memperoleh keuntungan dari situasi yang merugikan masyarakat. Penggunaan metafora “iblis bersayap pakai jubah sutra” memperkuat gambaran tentang sosok yang terlihat baik di permukaan tetapi dianggap memiliki niat yang merugikan.
Pada verse kedua, lagu semakin menyoroti dampak sosial yang ditinggalkan oleh konflik tersebut. Gambaran anak-anak yang bermain di tengah puing-puing dan keluarga yang hidup dalam kesedihan menunjukkan bahwa konsekuensi suatu kebijakan atau tindakan tidak hanya dirasakan oleh satu individu, tetapi juga oleh generasi berikutnya.
Verse ketiga menghadirkan nuansa perlawanan dan harapan. Lirik “Kami bukan bayang, kami cahaya” menunjukkan semangat untuk tetap bertahan dan memperjuangkan hak-hak yang dianggap penting. Tanah digambarkan sebagai warisan yang lahir dari “darah dan doa”, menegaskan bahwa nilai tanah tidak hanya bersifat material, tetapi juga memiliki makna historis dan spiritual.
Secara makna, “Bertahta Di Atas Tanah Mereka” adalah lagu tentang kehilangan, ketidakadilan, dan perjuangan mempertahankan identitas. Pari Kesit menggunakan bahasa yang puitis untuk menyampaikan kritik sosial sekaligus menyoroti pentingnya menghormati hak-hak masyarakat yang memiliki keterikatan dengan tanah dan ruang hidup mereka.