Lirik Lagu Thufail Al Ghifari – Debu Batas Palestina merupakan salah satu lagu dalam album Syair Perang Panjang yang dirilis pada tahun 2004. Lagu ini mengangkat tema konflik Palestina, perjuangan, serta identitas keagamaan melalui gaya rap yang sarat dengan simbol, referensi sejarah, dan narasi yang menjadi ciri khas Thufail Al Ghifari. Liriknya menggambarkan sudut pandang penulis terhadap berbagai peristiwa yang berkaitan dengan konflik dan isu kemanusiaan.
Dalam “Debu Batas Palestina”, Thufail Al Ghifari menyampaikan pandangan, keyakinan, dan ekspresi artistiknya mengenai konflik Palestina serta berbagai tokoh dan peristiwa yang disebutkan di dalam lagu. Lirik ini merupakan karya seni yang memuat opini, kritik, dan interpretasi penulis, sehingga tidak dapat dipahami sebagai pernyataan fakta. Bagi Anda yang ingin membaca isi lagunya secara lengkap, berikut lirik lagu “Debu Batas Palestina” beserta informasi mengenai album dan tahun perilisannya.
Lirik Lagu Debu Batas Palestina
[Verse 1]
Di mataku kulihat fakta
Menyilat sejarah dari cinta dan amarah
Pelupur dari setiap air mata tanah Anbiya
Membedah kepedihan para pujangga Allah
Penjaga batas tanah syuhada
Genggam ketapelmu hei Jundullah
Kekuatan kita akan gentarkan nyali arogansi heksagram
Hingga darah terakhir takkan terbungkam
Mereka yang menikam
Provokasi batas aqidah dari manipulasi jahanam
Jenin, Grozny, Gaza hingga ke cekung Kaspia
Merekam teritorial di hadapan batu para pejuang
Ketika mereka membangkang dari hati Musa yang terbayar duka
Tebusi batas kebohongan warisan Samir
Hingga sadarku menembus batas stagnasi dunia
Fitnah yang tertuduh dari seribu penipu peluru
Merangkai tanpa malu untuk rudal yang sentuh tubuh Syaik Ahmad Yasinku
Dan air mata keluarga Rantisi
Bagi kepedihan seluruh umat Islam di dunia ini
Di mataku kulihat kau tersenyum
Sambil membunuh saudara kecilku yang sisakan jasad beku
40 jam berlalu untuk 3.297 juta nyawa syahid di Sabra Satilla
Neraka yang cukup kau tawarkan
Pintu surga yang begitu indah untuk tetap di garis depan
Perlawanan ini adalah panggilan nurani
Bagi mereka yang mau membuka hati ceria atas tawa yang tercuri
Sesuatu yang harus kita rebut kembali
Sesuatu yang harus kita jaga hingga akhir zaman ini
Senapan seragam besi dan tank baja para penjajah agama
Propaganda Jahiliyah di atas media massa
Temukan hidayah dari para pewaris Intifadah
Di garis depan kutunggu kau sahabat
Yang tak akan pernah ada perdamaian
Bagi mereka yang tak pernah mengharagai agama kita
Menepis setiap debu di garis batas perlawanan kita
[Chorus]
Allahuakbar
[Verse 2]
Yo, check
Teruntuk kalian yang merindukan mereka
Yang berdiri dari kebesaran para panji-panji kemegahan Islam
Yang menguhunuskan pedang di atas kebathilan
Yang bertutur bijak membangun keadilan dan kesejahteraan
Mereka yang maniskan intisari sejarah
Cerita panjang Syuhada tanah Anbiya
Abu Bakar Ash Siddiq, Umar Bin Khatab
Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib
Hingga kebesaran Umar Bin Abdul Aziz
Lihatlah, bingkai kenangan itu kawan
Warisan dari legenda para Mujahid
Pemimpin garis depan terbaik seperti Khalid Bin Walid
Pujangga Kalimatullah yang getarkan nyali para kafir dunia
Berdiri dari pewaris Abu Barzah Bin Al Zahra
Al Mutsad bin Abi Wariq Sah, Saad Bin Abi Waqash
Bagi kita para penerus Intifadah ini
Generasi para penjaga batas serangan Zionis
Mimpi buruk paranoia liberalis
Seperti ketika Salahudin Al-Ayyubi meratakan arogansi salibis
Maka, tetaplah optimis
Terserah fitnah yang menyebut kita fasis atau rasis (bahkan teroris)
Bagi jalan Allah yang termanipulasi kaum hipokritis
Terjagalah hei petinggi Syuhada
Hanya kematianlah akhir dari perjuangan kita
Bagi dunia yang tak pernah menghargai akhlak kita
Di mataku kulihat fakta, karena itulah aku enggan menyerah
Islam harus merdeka atau aku harus syahid di jalan Allah
[Chorus]
Allahuakbar
