arquitecturaenacero.org
bsl.community
delo.kg
dharanisugars.in
enquetedenormandie.fr

Durgahayu

Lirik Lagu “Rolling Thunder – Durgahayu” mengangkat tema kritis tentang kemerdekaan Indonesia yang dipertanyakan melalui perspektif sosial, politik, dan ekonomi. Dalam liriknya, para MC seperti Senartogok, Don Wilco, Sleepearth, dan lainnya, membahas berbagai isu, mulai dari korupsi, eksploitasi sumber daya alam, hingga penindasan hak asasi manusia.

Setiap bait dari lagu ini menyoroti elemen-elemen ketidakadilan yang masih terjadi, meskipun Indonesia telah merdeka selama puluhan tahun. Mulai dari permasalahan lingkungan, kesenjangan ekonomi, korupsi di kalangan pemerintah, hingga ketidaksetaraan sosial yang dirasakan oleh rakyat kecil. Lirik-lirik ini sangat kuat dan penuh dengan simbolisme yang menggambarkan kemarahan dan frustrasi atas sistem yang mereka anggap tidak adil.

Lirik Lagu Durgahayu

  1. Senartogok
  2. Don Wilco
  3. Sleepearth
  4. Jere Fundamental
  5. MG
  6. Altarlogika
  7. Insthinc
  8. Dzulfahmi
  9. Doyz
  10. Sentris
  11. Loseyes
  12. Ciel Duke
  13. Rappinflat
  14. Juta
  15. Fetty Acid
  16. Kwalik Mega
  17. Alfabeta
  18. Joe Million
  19. Pangalo!
  20. Maderodog
  21. Rand Slam
  22. Morgue Vanguard

[Verse 1: Senartogok]
Akulah Durga penghantam setiap euforia
Dengan Dargah belasan MC rakit proklamasi
Semerah darah Liongsan, seputih hati Bu Patmi
Bercampur pekat, hitam melekat layak Semanggi
Kafiri senin pagi tanpa hormat
Bendera kami adalah vonis Ulayat
Yang dipenjara kala tengat
Opsi pupus lipat gandakan Ego Reyhart
Di saat parang batu balok membaiat
Kami Django mainkan Tango
Di depan instrumen negara segagah Tuwolo
Petik Mbosa tanpa Nova, Pericoloso
Ini “The As-hole Anthem” Necro
Bagi jargon ibu pertiwi di lidah Ani DiFranco
Di tanah air yang kami beli
Di ranah fakir yang nanti menagih
Rajah Korporasi Tunggal Ika di kulit
Patriotis bermadah NKRI harga s-lit

[Verse 2: Don Wilco]
17 08 45, Rayakan dengan 14045
Matikan TV saat Mars Perindo mengudara
Angkat mikrofonmu sebelum Surya Paloh Bersuara
Terbangkan Garuda yang membawa jasad Munir
Kepada paduka yang berhasrat pada pungli
NKRI harga mati, nyawa rakyat harga grosir
Manifestasi Primer tuk Infrastruktur Katastropi
Angkat sopi kala Proxy Starbucks kuasai ladang kopi
Kupanaskan tiap kepala, paksa kalian angkat topi
Hanya pada anggur lokal kuhormati merah putih
Bila Papua itu brankas maka Jawa itu kunci
Kupandang rendah para MC plat merah
Persetan jasmerah, ini tanah air versi Beta
Yang masih menguji grafik Bhineka Tunggal Ika
Mendatar atau menurun bagai teka-teki silang

[Verse 3: Sleepearth]
Taghut bahu-membahu memacu waktu merancu
Lalu membabu mematuh pemaku paku benalu, Mala
Tak diberantas lantas kemas legalitas meretas nafas
Proklamasi di kanvas realitas, harga
NKRI mati anti insureksi
Direksi diproteksi meski injeksi infeksi
Jangkit setiap langit dan bumi manusia lemah
Dicacah darah dijajah dibenah upah serendah
Marwah merdeka dibawah (kaki) mereka
(Korporat) tiran ribawi bangun neraka beraneka
Macam lubang bekas tambang curang hutan dibuang
Ruang pendulang uang hanya dituang pada Tuhan
Yang menari di atas bangkai memahligai dirgahayu
Basuh tangan serasuah orang nomor satu
Menantu sang ratu palsu, pengasuh banteng kemayu
Terharu kala penyamun menaruh phallus (k-ntol)
Di paruhnya (mulutnya) sampai mampus

[Verse 4: Jere Fundamental]
Dogma mengakar ke anak cucu, satu tujuh ini masih terasa rapuh
Begitu django jargon kelas bulu yang di bantu reklame para guru
Penyampaian lantang di depan microphone
Tak berbanding lurus saat kita menonton
Ku merasa seperti planton di luasnya atlantis berbatalion
Bicara rata merata adil dan mengadili individu
Dari perspektif yang tumpul lebih keliru dari hilangnya Widji Thukul
Sayambara berbondong keliling kampung
Euphoria gong sedap menampung kusta yang telah rampung
Untuk dibagi ke setiap lumbung dan lambung
Sejauh mata memandang, tangan tak pernah sampai untuk memegang
Merasakan hal yang serupa 10 tahun mundur ke belakang
Maka, jangan membicarakan mengapa, jikalau makna
Tak begitu kompleks untuk diwarta di hari yang sama setiap tahunnya
Teriakan lebih lantang gagasan baru imajiner
Kala aspek mendasar di liang negeri ini di tawan para militer
Mengharukan koroner ini menjadi budaya
Tidak asing bukan lain, kita hidup di tengah tipu daya

[Verse 5: MG]
Jangan bilang merdeka, kami masih dijajah
Rampas lahan mereka, alam kami dijarah
Berapa banyak jiwa hilang tanpa ada mediasi
Banyak suara yang terbungkam, omong kosong demokrasi
Harga diri tak lebih mahal dari harga terasi
Bak Assassin kau beraksi, kau batasi Hak Asasi
Di balik tembok kekuasaan kalian beraksi
Persetan para penjahat berdasi
Tak mau melihat walau matamu terbuka
Ibu pertiwi sekarat menelan darah yang tertumpah
Hitung sendiri sekarang berapa yang belum terungkap
Ikut berdiri melawan, awasi yang hampir terlupa
Paniai berdarah, Deiyai berdarah
Kadang ku berpikir apa benar kita sedarah
Mungkinkah Bhineka Tunggal Ika kan tinggal sejarah
Biarkan kami pergi kalau memang tak lagi searah

[Verse 6: Altarlogika]
Atas nama bangsa tanpa tanah air, merdeka
Banjar tanpa akhir kan kubakar bendera
Prosa Anumerta Kalam Profan bak kudeta
Kala rongga tiap dada tak bersarang sang garuda
Rayakan dirgahayu bagai funeral
Kan kurangkai rudal kala mantra kurapal di depan jendral
Rima ku sakral bermodal sompral
Engkau dan aku hafal, negara butuhkan tumbal
Altarlogika bagi tendensi, kalam dan api di atas jerami
Tawarkan sayat nadi, berjanji merangkai mimpi
Kala TNI kuasai takdir
Di hari petani tak butuh Tanoe dan MNC
Berdoa di atas tumpukan janji
Montana gantikan senapan, akulah TAKI (183)
Enggan mengabdi, akulah Ali pegang kendali
Mengganti apel pagi dengan Block Party, nyalakan nyali

[Verse 7: Insthinc]
Ini panglima rima bintang 5
Bawa suara dari jurang kasta dengan pesona Dalai Lama
Bariskan dosa barisan orde yang tak ada beda
Wariskan kami tinja dari lubang p-ntat yang sama
Tak percaya buka mata
Oh ya? katanya sudah merdeka? tentara bebas dor warga
Bisnis sawit bawa Ispa, Pilkada itu pesta setan tanah
Gusur paksa langsung umum bebas rahasia
Kalian semua terbiasa biasa
Ku tak pernah bisa tak bawa bisa di tiap prosa
Menempel serta Flow yang Bhinneka
Awas kau masuk penjara tak amalkan 5 sila
Hah? pikir lagi 1000 kali
Siapa yang nikmati hasil kerja dari malam sampai pagi
Cuma cukup beli kopi dan Indomie bung, ini NKRI?
Kalau tak terima nanti negara kirim Polisi

[Verse 8: Dzulfahmi]
Berbeda paradigma awas kau dihardik massa
Badan negeri ini kini telah menjadi tuna daksa
Merdeka kebebasan itu untuk siapa?
Untuk Indonesia atau untuk penguasa?
Pak jaksa kadang masih suka lapar
Disuap dengan uang, disulapnya peluang
Sedang kami berjuang walau berujung dengan uang
Ruang kami dibatasi, genosida hak asasi
Merah dengan putih kini tak lagi menyatu
Menyayat nyatakan bahwa agama kita itu satu?
Garuda tidak di dada, juga tidak di kepalan
Apa garuda hanya ada dibungkus kacang?
Bhinneka jual gadget, tunggal ika sekarang pecah
Pilkada dengan dalih dan yang jujur dipenjara
Pak dewan jadi dewa, jangan kau cari perkara
Merekayasa arti merdeka demi memperkay