“Hanya Aku” dari Syameer adalah lagu yang penuh emosi dan pesan mendalam tentang perjuangan hidup, pandangan orang terhadap status sosial, serta keyakinan pada diri sendiri. Liriknya yang jujur dan lugas menggambarkan kisah seseorang yang tetap tegar menghadapi kesulitan meskipun sering dipandang sebelah mata.
Lirik Lagu Hanya Aku
[Chorus]
Ramai yang pandang rendah, andai aku tak berharta
Segala kata-kata dari mulut aku di anggap tak berharga
Tapi kalau ku kaya, percaya tak percaya?
Yang tak kenal pun datang dekat dan mengaku keluarga
[Verse 1]
Tak payah mengaku kawan
Sebab hanya aku yang ada waktu aku jatuh
Dan waktu aku susah
Dan aku tak peduli apa kata orang
Yang penting aku tahu apa yang aku tengah lalu
Dan engkau takkan tahu
Memang ini realiti yang pahit aku telan
Ambil risiko susah payah atau beban
Pedulikan aku sakit sendiri ku simpan
Biar aku susah janji tak dianggap beban
Biar aku sendiri hayati rasa ini
Kekayaan bukan takat duit tapi bernafas dan
Lepas sabar itu yang ku harap ketenangan
Kalau aku tak cemerlang dalam pelajaran
Mereka cakap aku takde masa depan
Mereka mahir untuk baca takdir
Tahu masa depan dari belum lahir
Aku tak peduli apa walau orang rendahkan
Aku tetap bangga dengan diri aku dan aku tahu
[Chorus]
Ramai yang pandang rendah, andai aku tak berharta
Segala kata-kata dari mulut aku di anggap tak berharga
Tapi kalau ku kaya, percaya tak percaya?
Yang tak kenal pun datang dekat dan mengaku keluarga
[Verse 2]
Ramai yang banyak mulut, hanya pandai mengata
Sementara aku kerah tulang kerja demi aku punya keluarga
Still aku berjalan di dunia kejam
Usaha keras sampai kurang pejam
Tak kisah tentang aku, asal keluarga boleh hidup tenang
Kita memang tak sama dan kita takkan pernah sama
Hidup aku dah banyak bencana, tapi masih berjaya untuk survive
Tak pernah aku peduli apa yang datang
Biar terbakar hingga jadi arang
Aku tak nak berundur tetap berjuang hingga aku terkubur
Tinggal aku sendiri
Biar aku rawat kan luka ini
Biar aku sendiri
Lalui jalan yang aku pilih
Deskripsi
“Hanya Aku” mengangkat tema ketidakadilan sosial dan pengalaman pribadi Syameer yang diabaikan saat sedang di bawah, namun dipuja ketika berada di atas. Lagu ini sarat dengan motivasi untuk tetap kuat menghadapi kehidupan yang penuh tantangan, meski dunia terasa tidak adil.
Pada Chorus, Syameer langsung menyinggung fenomena sosial yang kerap terjadi: “Ramai yang pandang rendah, andai aku tak berharta”. Lirik ini merefleksikan bagaimana status sosial sering kali menjadi tolok ukur nilai seseorang di mata orang lain. Saat ia tak punya apa-apa, suaranya tak dianggap berharga. Namun, jika ia menjadi kaya, mendadak banyak yang datang mendekat dan mengaku sebagai keluarga.
Verse 1 menggambarkan sisi realistis dari kehidupan Syameer. Ia bercerita tentang kesulitan yang ia hadapi seorang diri. Dengan lirik seperti “Tak payah mengaku kawan, sebab hanya aku yang ada waktu aku jatuh”, Syameer ingin menegaskan bahwa ia tahu siapa yang benar-benar tulus. Ia juga mengungkapkan keyakinannya bahwa kekayaan bukan hanya soal uang, melainkan juga rasa tenang dan kemampuan bertahan menghadapi cobaan.
Syameer menolak menyerah meski ia sering direndahkan karena tidak cemerlang di bidang akademik: “Kalau aku tak cemerlang dalam pelajaran, mereka cakap aku takde masa depan”. Ia menantang stereotip tersebut, membuktikan bahwa masa depan bukan hanya milik mereka yang memenuhi standar konvensional. Dengan nada optimis dan percaya diri, Syameer menyatakan bahwa ia bangga dengan dirinya sendiri.
Di Verse 2, ia kembali menegaskan kerja kerasnya demi keluarga. Syameer tak peduli pada omongan orang yang hanya pandai mengkritik: “Ramai yang banyak mulut, hanya pandai mengata, sementara aku kerah tulang kerja demi aku punya keluarga”. Baginya, keluarga adalah prioritas utama. Usaha kerasnya dilakukan bukan untuk kemewahan, tetapi untuk memastikan keluarganya bisa hidup dengan tenang.
Lirik “Biar aku rawat kan luka ini, biar aku sendiri, lalui jalan yang aku pilih” menutup lagu dengan perasaan reflektif. Syameer memilih untuk berjalan sendiri, menyembuhkan luka yang ia alami, dan tetap berjalan di jalan yang telah ia tentukan, meski itu berarti berjuang sendirian.